Cermin.

 


— Cermin


Lagi-lagi hari sudah pagi, jika dihitung sudah entah berapa hari mata absen dari haknya untuk terpejam guna beristirahat barang sejenak. Klise, memang, tapi cahaya matahari yang perlahan menyusup masuk dari sela-sela gorden, suara burung yang hanya samar terdengar namun jelas kalau itu suara burung, serta suara kendaraan berlalulalang menunjukkan kalau di luar sana hari sudah dimulai. 

Aku beranjak, setelah rentetan kalimat di layar kerja dan rangkaian jam kuhabiskan untuk duduk tanpa merenggangkan tubuh sama sekali, akhirnya aku berdiri dan mencoba bernafas sejenak, mencoba mengembalikan tulang-tulang yang mungkin beberapa saat lagi akan berhamburan dari tempatnya menjadi paling tidak kembali lurus dan berada di tempat seharusnya mereka berada. 

Segelas air putih menjadi perhatianku, air yang agaknya sudah berada di meja sejak kemarin segera kutenggak habis seolah menebus kekurangan konsumsi air yang — sama seperti hak mataku untuk terpejam — sempat absen beberapa kali. Ah, sebenarnya apa yang sedang kulakukan, sih?

Segalanya menjadi kacau dalam waktu kurang lebih satu tahun. Rencana-rencana, angan-angan tentang hidup dan masa depan rasanya dihempas tiba-tiba. Pagi yang seharusnya segar dan disambut dengan suka cita rasanya justru jadi musuh besar karena gerutu 'ck, sudah pagi lagi' seolah mantra yang rutin kurapal sebagai bentuk kesal akibat mendekatnya tenggat waktu pekerjaan, pembayaran, dan an an lainnya. 

Selanjutnya cermin, pantulan yang ada di sana setelah aku berdiri tepat di hadapannya membuat diri sedikit terdiam sejenak. Kantung mata yang seolah bisa dipakai untuk belanja, tapi setidaknya mataku masih bisa dipakai untuk melihat. Tubuh yang jujur tidak elok juga dipandang mata, namun tidak mengurangi fakta kalau aku masihlah manusia yang hidup dan bernyawa. Serta kesadaran, sadar bahwa sebanyak apapun kekurangan dari pantulan di cermin, tidak mengurangi fakta bahwa Tuhan masih berbaik hati memberikan aku kesempatan untuk hidup dari hari ke hari. 

Biar kuberitahu sesuatu, yang terakhir itu cukup jarang dimiliki seseorang. Jadi, jika pagi ini kamu bercermin dan sadar kalau sekurang apapun hidupmu tapi kamu masihlah hidup dan bisa melakukan hal yang bisa dilakukan, maka tersenyumlah. Saat ini, tidak banyak yang bisa dilakukan jadi setidaknya merapal syukur daripada gerutu kesal karena pagi sudah datang bisa kita lakukan paling tidak satu hari sekali. 

Tiba-tiba aku tersenyum, sosok yang berantakan di hadapan cermin ini memang tidak cukup jika hanya diberikan syukur setiap hari. Jadi setidaknya biarkan aku merawat diri yang sempat absen dari segala kewajibannya ini. 

Satu kali kucoba untuk mengubah pandangan tentang pagi dan menyambutnya sebagai awal baru dari kesempatan yang baru, bukan gerutu kesal karena tenggat yang mendekat. Satu kali itu ternyata berarti, sinar matahari pagi, suara burung yang samar dan kendaraan tanda orang memulai hari mereka tidak lagi membawaku pada rasa kurang bersyukur, namun membuatku lebih menjadi manusia. 


Selamat pagi. 

Komentar