Adakalanya hujan sengaja datang, memberi jeda sejenak satu atau dua menit bagi kita untuk bernafas. Jika saja bukan karena hujan, mungkin aku tidaklah sempat mengembalikan akal sehat kalau aku masihlah manusia.
Tidak ada yang istimewa hari ini, yang ada hanyalah langit mendung di waktu sore yang terlalu tenang hingga terasa sedikit tak nyaman.
"Menurutmu apa itu kehilangan?" Tiba-tiba sebuah pertanyaan tertangkap runguku.
Aku terdiam, mencoba mencerna maksud pertanyaan sambil menyesap secangkir teh secara perlahan. Teh itu adalah teh tawar yang belakangan ini selalu kumasukkan paksa ke dalam perut, teh tawar yang sangat handal membuatku melupa bagaimana rasanya gula.
"Entahlah." Akhirnya satu kata itu kuberikan sebagai jawaban.
Bukan, bukan karena aku enggan menjawab. Hanya saja–– aku sudah terlalu terbiasa dan belakangan terlalu banyak yang dirasa hingga tidak tau pasti mana perasaan nyata yang dapat mewakilkan rasa "kehilangan".
Seketika hening datang, mungkin kami berdua sama-sama bingung harus berkata apa lagi.
"Menurutmu?" Tanyaku memecah hening, lagipula aku yakin kalau pertanyaan itu dilontar agar kutanyakan kembali.
"Kehilangan, ya? Ketika kita tidak bisa bersama lagi dengan orang yang berarti untuk kita? Sebetulnya bukan hanya orang, tapi apapun yang memiliki tempat sendiri di hati dan keabsenannya membuat kita merasa kosong. Kau pernah?"
Aku menaikkan wajahku, tak lagi berfokus pada cangkir teh.
"Aku selalu merasa kosong." Ujarku datar.
"Tapi aku sedang tidak merasa kehilangan apa-apa."
"Kau yakin?"
Aku mengangguk.
"Salah."
Satu kata itu berhasil menimbulkan kebingungan, memunculkan tanda tanya di benak sehingga aku harus menoleh 'tuk cari penjelasan lebih lanjut.
"Lalu?"
"Kau kehilangan dirimu sendiri."
Kini kedua alisku bertautan. Heran.
"Aku tida—"
"Kau tidak menyadarinya."
Lagi-lagi hening menyapa, memberikan ruang bagiku untuk sedikit lebih lama mencerna fakta yang sangat kuhindari.
"Apa iya?" Gumamku pelan sambil melempar pandangan sedikit jauh ke depan, namun masih sama kosongnya dengan perasaanku sehari-harinya, menyisakan sore yang sendu itu bersama seribu tanya yang tidak terjawab.
Jadi, yang hilang itu aku atau kemampuan merasa yang kumiliki karena terlalu sering ditempa kehilangan?
–– selesai.

it's such a beautiful reminder
BalasHapusGlad to know that it was a good reminder, thank you for the feedback too! Have a great day!
HapusAh ... I've been there, too. Terlalu meratapi kehilangan akan mereka yang sudah pergi kadang bikin kita kehilangan jati diri juga.
BalasHapus-RennaLotary (yang pengen ganti username dan foto tapi ga bisa)-
Semoga nggak ada lagi kehilangan-kehilangan yang bikin sedih, ya!
Hapusaaahh ini berasa bgt kaya modelan percakapan tengah malam diri sendiri hiks, penulisannya bagusss
BalasHapusTerima kasih banyak, kak!
Hapus